Nasib anak Jalanan
Tertujukah matamu pada kami?
Saat kalian melihat
Begitu sulit hidup kami
Nasib kami anak jalanan
Tak ada satu impian lagi bagi kami
Yang kami gantungkan setinggi langit
Selain mengadu nasib
Di tengah kejamnya kota
Membawa kerincingan kecil
Dengan suara apa adanya
Yang kami jadikan modal
Untuk bertahan hidup
Atau hanya mengulurkan tangan
Meminta satu rupiah saja
Setidaknya untuk makan seuap nasi
Hari ini…
Tak jarang pula kami dimaki
Tapi apa yang kami bisa?
Bukan kami tidak punya harga diri
Tapi kami sadar diri, inilah jalan hidup kami
Dalam hati kami hanya berdoa
Agar nasib kami berubah
Entah kapan Tuhan mengabulkannya
Kami hanya bisa bersabar dan berharap
Semoga Tuhan…
Mendengar jeritan hati kami
Minggu, 07 Februari 2010
Sabtu, 06 Februari 2010
Penyesalan
Bagiku, dunia masih gelap
Kelam, terhalang awan hitam
Dimana hari cerah itu?
Aku semakin keliru..
aku mengadah cakrawala
namun tiada berujung…
Hanya ada hitam, kelam, gulita
lalu...
Imajinasiku semakin nyata
Aku bermirat dengan kalbu
Aku beriman pada yang palsu
Bayangan dosa hidupku
Semakin menghantuiku…
Awan hitam itu semakin mendekat
Semakin membebani pikiranku
Aku mengumpat dari ketakutanku
sesaat berhenti mengadah cakrawala
hinggs mataku membeku
Hari cerah itu telah tersapu
membekas suatu luka
ya, luka sukma
Bagiku, dunia masih gelap
Kelam, terhalang awan hitam
Dimana hari cerah itu?
Aku semakin keliru..
aku mengadah cakrawala
namun tiada berujung…
Hanya ada hitam, kelam, gulita
lalu...
Imajinasiku semakin nyata
Aku bermirat dengan kalbu
Aku beriman pada yang palsu
Bayangan dosa hidupku
Semakin menghantuiku…
Awan hitam itu semakin mendekat
Semakin membebani pikiranku
Aku mengumpat dari ketakutanku
sesaat berhenti mengadah cakrawala
hinggs mataku membeku
Hari cerah itu telah tersapu
membekas suatu luka
ya, luka sukma
Membaca-Mu
MembacaMu laksana tasbih
AsmaMu lenyapkan dendam di hati
Mataku sekejap beralih
Kagum akan keagunganMu
Ingin ku ikuti
Jejak ayat – ayat terindahMu
Yang akan membawaku
Ke tempat terindah di sisiMu
Aura keistimewaanMu
Belum bisa aku terjemahkan
Pada detik malam kenangan
Menjelang ajalku tiba
Semua ku lakukan
Untuk kebahagiaan abadi
Yang bersiap menyambutku
Di langit ke tujuh….
Bekasi, 14 November 2009
MembacaMu laksana tasbih
AsmaMu lenyapkan dendam di hati
Mataku sekejap beralih
Kagum akan keagunganMu
Ingin ku ikuti
Jejak ayat – ayat terindahMu
Yang akan membawaku
Ke tempat terindah di sisiMu
Aura keistimewaanMu
Belum bisa aku terjemahkan
Pada detik malam kenangan
Menjelang ajalku tiba
Semua ku lakukan
Untuk kebahagiaan abadi
Yang bersiap menyambutku
Di langit ke tujuh….
Bekasi, 14 November 2009
Deritaku
(Elvira Rafika)
Aku menatap lesu
Hatiku terintai membeku
Terdiam dengan sakitku
Terpaku dalam dosaku
Sanubari ini bicara
Bertanya Tanya dalam dukaku
Mengapa mereka tertawa ria
Diatas jeritan hatiku
Masih waraskah mereka?
Meskipun tiada berguna
Meskipun hanya menaungi nafsu belaka
Meskipun berbalut lara
Tetapi hatinya sudah tuli
Nuraninya sudah dirasuki iblis
Mereka tidak tahu
Apa yang mereka perbuat
Diatas penderitaanku…
(Elvira Rafika)
Aku menatap lesu
Hatiku terintai membeku
Terdiam dengan sakitku
Terpaku dalam dosaku
Sanubari ini bicara
Bertanya Tanya dalam dukaku
Mengapa mereka tertawa ria
Diatas jeritan hatiku
Masih waraskah mereka?
Meskipun tiada berguna
Meskipun hanya menaungi nafsu belaka
Meskipun berbalut lara
Tetapi hatinya sudah tuli
Nuraninya sudah dirasuki iblis
Mereka tidak tahu
Apa yang mereka perbuat
Diatas penderitaanku…
Langganan:
Komentar (Atom)