Bahasa
Dalam Jiwa
Setiap kali ibu mengelus rambut panjangku dengan lembut, penuh
cinta kasih yang tidak bisa beliau ungkapkan dengan kata – kata. Ah, ibu pasti
begitu merindukanku,ya? Aku juga merindukan Ibu.”
Seorang gadis manja masih asyik membaca koran the jakarta post hari
ini. Belaian rindu ibu tidak ditanggapinya dengan cara sedemikian sendu. Dia hanya
terdiam, menikmati jari jemari ibu bermain di kepalanya. Sudah seminggu gadis
tercinta Ibu kembali dari Denpasar setelah berhasil menamatkan pendidikan
sekolah menengah pertama di Bali. Gadis bermata sipit yang jelas ciri
mongoloidnya itu hanya mengurung diri di rumah Ibu sembari menulis apapun yang
dia suka ke dalam catatan kecilnya. Gadis penikmat goresan indah, entah
beberapa kali dia bercerita, menulis itu indah, sangat indah. Menulis seperti
teman hidup yang berjalan bersama kehidupan. Sama indahnya ketika dia hidup di
lingkungan asing yang membuatnya semakin terlihat lebih “modern”. Graciera
Nanda Aquera Tan, seorang gadis keturunan Chinese – Palembang. Atau Sebutlah
dia Nanda Tan. Nanda lahir di Kuala Lumpur, ketika Ayahnya masih bekerja di
perusahaan timah di Malaysia 15 tahun yang lalu. Tiga tahun awal sejak awal
kelahirannya, Nanda dan keluarga menetap di sana. Hingga kembali ke negaranya,
dia harus menelan masa- masa buruk saat duduk di bangku sekolah dasar di
Jakarta. Nanda menuntut orang tuanya agar mengizinkan dia untuk tinggal di
Denpasar bersama Tante Lian. Dan kini Nanda kembali ke Jakarta untuk
melanjutkan pendidikan sekolah menengah atas. Semua demi permintaan Ibu.
“mau kemana kamu setelah ini, Nanda? Masuk SMA, SMK, atau sekolah
internasional? Pilih mana yang kamu mau, sayang...” tanya Ibu membuka
percakapan.
“Nanda mau masuk SMIP, Bu.”
“SMIP?”
“Sekolah menengah industri pariwisata, Bu. Setingkat SMK. Boleh
ya?”
“dari kecil kamu sudah belajar di sekolah Internasional. Kenapa
sekarang kamu mau masuk SMK? Bahasa inggris kamu fasih, sayang. Teman – teman
kamu banyak yang masuk sekolah internasional. Termasuk teman – teman kecilmu
dari Kuala Lumpur. Apa nggak sayang sama pilihanmu itu?”
“Bu, pariwisata itu
butuh banyak orang yang berkemampuan bahasa Inggris yang baik. Nanda rasa,
Nanda bisa, Bu. Nanda ingin menjadi pemandu
wisata seperti tante Lian.”
Ibu menatap Nanda penuh tanda tanya. Dadanya berdenyut cepat
menyimpan keraguan. Nanda masuk SMK? SMIP? Ibu mengenal Nanda sebagai sosok
gadis blasteran yang “canggih”. Meskipun mampu berbahasa Indonesia, Nanda lebih
baik berbicara dengan bahasa Inggris. Singkatnya, Nanda lebih mampu berbahasa
Indonesia dalam bentuk oral ketimbang lisan. Jika Nanda masuk SMK, dan banyak
bertemu orang – orang yang menganggap anaknya aneh, Nanda pasti kembali
bernostalgia dengan masa kecilnya. Masa – masa disaat Nanda menjadi korban kekerasan
verbal. Bagaimana tidak, anak cantik satu ini lebih pantas berbahasa Inggris.
Jika berbicara bahasa Indonesia, rasanya perlu latihan lagi agar terdengar
lebih “nasional”. Sudah beberapa kali Ibu mengajarkan Nanda agar tidak
berbahasa Inggris di lingkungannya karena Nanda sering dianggap “sok Inggris”. Namun
Nanda selalu mengelak. “suatu saat mungkin bahasa Inggris akan menjadi bahasa
terbesar kedua di negara kita, Bu. Nanda nggak suka belajar bahasa Indonesia
sedangkan anak – anak zaman sekarang sering mengubah – ubah makna kata menjadi
bahasa yang kasar. Nanda bisa bahasa Indonesia, Bu. Lihat saja aku sekarang.
Cuma logatku saja yang sering menjadi bahan ledekan. Tidak apa – apa ya, Bu?
Nanda juga merasa lebih cerdas karena teman Nanda belum ada yang fasih berbahasa
Inggris.” Cerita Nanda suatu hari ketika Ibu sedang menasihati Nanda.
“Nanda, kamu yakin masuk SMK? Kamu ingat masa kecil kamu, nak?
Kamu pernah dihina teman kamu karena dianggap sok bule, padahal memang kamu
terbiasa berbahasa asing sejak kecil. Kalau kamu masuk sekolah internasional
dengan kurikulum berbahasa inggris, kamu tidak perlu khawatir karena bahasa
inggris adalah bahasa pengantar di sekolah internasional.” Ibu kembali mengelus
rambut Nanda.
“Ehm... tapi mungkin saja dengan masuk SMK, Nanda jadi lancar
bahasa Indonesia kan, Bu. Nanda jadi bisa dua bahasa.”
“Nanda... tapi...!”
“Bu, tolong. Kali ini saja.”
Nanda mencium tangan ibu lalu memeluknya erat – erat. Sekalipun Ibu sedang
berdebar khawatir, Ibu tidak bisa mengelak kemauan anak semata wayangnya itu.
Sikap optimisme Nanda sering kali membuat ibu kehabisan akal. Termasuk saat
ini.
“Jangan takut ya, bu!”
“Baiklah, terserah kamu,
Nanda!”
Mereka saling memandang binar – binar air mata dengan penuh
keharuan.
*
Satu bulan berlalu setelah masa orientasi siswa berakhir. Nanda
sangat menghargai pilihannya sebagai siswi SMK Pariwisata. Kisah – kisah getir
masa kecilnya hanyalah separuh khayalan semu yang tidak akan terjadi lagi di
kehidupannya. “Siapa juga yang berniat menghina saya di sini sedangkan teman –
teman saya berlomba ingin menjadi diri saya. Ehm, saya menyukai Indonesia dan
saya juga mencintai bahasa Inggris. Dua
hal penting dalam pariwisata!!” seru Nanda dalam hati. Ya, Nanda, namamu
memiliki arti anugerah, semoga hidupmu akan selalu menjadi anugerah.
Nanda turun dari mobil pribadinya dan berjalan menuju bus di
halaman sekolah. Hari ini adalah hari pertama Nanda mengikuti program wisata
Jakarta. Sebuah program wajib dari pihak sekolah bagi siswa usaha perjalanan
wisata. Dengan gegas Nanda naik ke bus dan mengambil kursi paling belakang.
Semua anak kelas X UPW memperhatikan tingkah konyolnya tanpa terkecuali Bapak
Sira, guru senior dengan gaya khasnya yang nyaris menegur Nanda karena
terlambat hadir 10 menit.
Semua murid sibuk mencatat
apapun yang dijelaskan oleh Pak Sira bersama beberapa murid pilihannya dari
kelas XII. Perjalanan yang melelahkan, bahkan lebih melelahkan dari study tour
ke luar kota sekalipun. Mencatat dan mendengar. Hanya dua aktifitas wajib yang
harus murid – murid lakukan selama perjalanan berlangsung.
Nanda mengamati sekelilingnya, teman – teman sebayanya sibuk
dengan urusannya sendiri. “mungkin semua ini tidak penting untuk mereka.
Senangnya hidup lama di Jakarta”, pikir Nanda. Supir bus membelokkan kemudinya
menuju suatu bangunan. Bangunan antik, cukup megah, terdapat patung gajah di
halaman depannya. Pak sira terlihat semakin serius menanggapi teman – teman
Nanda yang selalu “sibuk sendiri” selama perjalanan.
“Selamat datang di Museum Nasional! di sini kalian tidak bisa main
– main. Ini adalah bagian dari tugas seorang murid usaha perjalanan wisata.
Kalian bukan hanya mengunjungi museum ini, kalian harus mencatat serinci
mungkin apapun yang saya katakan dan jangan ada yang terpisah dari rombongan.
Setelah perjalanan ini berakhir, kalian harus segera mengumpulkan laporan
dengan format yang sudah ditentukan!” suara Pak Sira semakin terdengar serak.
“Baik, Pak !” semua murid menjawab perintah Sang guru pujaan yang
terkenal sebagai sepuluh besar orang yang paling berpengaruh di dunia pariwisata
Indonesia. Mereka berjalan mengikuti arahan Pak Sira dan tanpa lalai mencatat.
Dan kini mereka berada di ruang geografi Indonesia.
“Museum Nasional sebagai museum terbesar dan tertua di Indonesia
tidak hanya berisi arca ataupun keramik. Disini kalian dapat mengamati geografi
Indonesia beserta kebudayaannya....”
Pak sira terus menjelaskan kalimat cerdasnya sembari tertawa –
tawa kecil melihat kelakuan muridnya yang aneh – aneh saja. Beberapa kalimat
terakhir Beliau membuat Nanda tersentak dan berhenti mencatat.
“Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Dari peta
geografi, mari kita lihat peta bahasa dan etnis. Indonesia memiliki 300 – 400
suku bangsa dan 360 bahasa. Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa jumlah
bahasa negara kita adalah 760. Namun dari peta ini dapat kita simpulkan bahwa jumlah bahasa di
Indonesia sebanyak 360. Provinsi yang memiliki bahasa daerah paling banyak
adalah Nusa Tenggara Timur. Lebih dari 100 bahasa ada disana, bahkan setiap
kampung bahasanya hampir berbeda.” Pak Sira dengan bangga menjelaskan peta
bahasa dan etnis. Beliau menatap peta itu cukup lama, sampai akhirnya beliau
bicara lagi.
“Usia saya sudah 60 tahun. Selama ini saya banyak mempelajari
bahasa – bahasa asing seperti bahasa Inggris, Perancis, Mandarin, Jepang, dan
sedikit bahasa Belanda. Namun saya menyesal telah berusaha menjadi orang yang
baik untuk orang lain, tapi orang lain
tidak menganggap saya baik. Saya selalu dinilai kurang nasionalis, dan tidak
idealis.”
“kenapa begitu, Pak?” Harry, salah satu cowo tampan di kelas mulai
mengerutkan alisnya.
Pak sira menghela nafas panjang dengan beberapa detik untuk
melanjutkan kata - katanya.
“karena saya mampu menguasai lima bahasa asing namun saya hanya
menguasai satu bahasa Indonesia. Suatu waktu saya pernah ditanya wisatawan asal
Belgia, dia bertanya kepada saya tentang bahasa Sunda. Bahkan minta diajarkan
bahasa Sunda. Dia mengatakan bahwa bahasa Sunda adalah salah satu bahasa indah
di Dunia setelah bahasa Perancis. Dan apa kalian tahu? Saya pun tidak bisa
menjawabnya. Bukan karena saya bukan orang Sunda, namun karena saya memang
tidak tahu bahasa Sunda. Bahasa daerah merupakan salah satu faktor daya tarik
wisatawan.
Nanda membuka mulutnya perlahan, memberanikan diri untuk bertanya.
“Bapak, bukankah bahasa asing itu penting?”
“Ya, memang penting. Penting untuk kalian berilmu namun tidak
penting jika anda ingin dipandang Bangsa lain. Orang – orang di belahan dunia
sangat mengagumi bangsa kita namun kita sendiri tidak mengaguminya. Belajarlah berbahasa
Indonesia yang baik untuk hasil yang paling baik. Pariwisata itu bersifat
dinamis dan lentur seperti karet.” Pak Sira berhenti bicara ketika semua murid
bersemarak menepuk tangannya. Rasa bangga karena mereka telah mengenal pahlawan
tanpa tanda jasa yang tidak mengenal lelah hingga usianya yang semakin senja.
Nanda tersenyum sembari mengamati peta bahasa dan etnis. Dia terus bergumam
dalam hatinya. Mungkin ini adalah bagian dari sebuah pembelajaran. Semua
dimulai dari sini. “Terima kasih Bapak Sira! Saya ingin mencoba mengenal bahasa
negara saya sendiri. Bahasa indah, ya bahasa luar biasa ! pasti menarik!” Nanda
kembali berjalan dan melanjutkan catatannya.
*
Suara – suara robekan kertas terdengar dari balik sebuah kamar di
lantai dua. Seorang gadis sedang bersandar di atas sofa bed berwarna pink
dengan memegang alat tulis bermerk. lembar demi lembar kertas dijadikannya
sebagai sampah, beberapa diantaranya dikumpulkan dalam kotak putih di samping
tempat duduknya. Setiap orang akan menatapnya dengan iba jika banyak yang tahu
bahwa gadis itu sedang meratapi penyesalan. Matanya tajam menatap langit malam.
Goresan – goresan kecil mulai mewarnai kertas barunya.
Duri – duri waktu
semakin menyekam.
Laksana rindu yang
tiada terurai
Aku padamu hanyalah
semu
Selalu menghilang
ketika kelam.
Riung – riung waktu
semakin teduh
Teduh dalam biru lalu
berakar palsu
Semu, semua berparas
semu
Aku tak lebih
binatang gila
Yang semakin ganas
dalam cinta
Yang semakin tunduk
bila tersengat
Semua terlalu abu –
abu.
NANDA TAN
Gadis itu mulai meneteskan air matanya yang semakin terasa dingin.
Dingin, sedingin hatinya. Dia terus menatap langit malam yang semakin kelam.
Dia ingin bercerita, namun rasanya belum di dengar juga. Kegelisahan terus
melanda jiwanya. Perlahan – lahan gadis itu meraih amplop coklat dari atas meja
belajar lalu membuka isi amplop tersebut.
“Ini
tidak mungkin !!!” gadis itu berteriak dalam hati sekuat mungkin. Selembar kartu
hasil belajar memberikan nilai 45 untuk pelajaran bahasa Indonesia atas nama
Graciera Nanda Aquera Tan. Gadis itu menggigit bibirnya sampai berdarah. Mengisyaratkan
kegalauan tergila dalam hidupnya.
“Tuhan, apa engkau tahu seumur hidup saya, saya tidak pernah
mendapatkan nilai macam ini. ini memalukan, Tuhan !!!”
Kini gadis itu benar – benar menangis mengingat “pertempuran empat
hari” akan dilaksanakannya beberapa bulan lagi.
“Tuhan, apa saya terlalu angkuh dengan kemampuan saya? Atau saya
terlalu banyak mencela orang – orang yang tidak sepadan dengan saya. Namun kini
ternyata orang – orang itu adalah orang yang lebih baik dari saya. Orang yang
selalu bisa menerima kondisi apa adanya
tanpa harus sempurna. Mereka hanya berusaha meminimalisir kesalahan.
Sedangkan saya? Saya selalu takut dengan kesalahan saya dan berusaha angkuh dengan
kebaikan saya, untuk kali ini, saya mohon ampuni saya Tuhan. Bukan maksud saya untuk
memaksa diri.” Gadis itu kembali diam menatap langit. Kebodohan seperti bagian
dari hidupnya.
“ini yang selalu ibu takutkan sayang, belajarlah menjadi pribadi
yang menghargai apapun. Jangan terus mengejar mimpi sedangkan kondisi lama
tidak lebih baik dari apa yang kamu impikan. Belajar menerima kesalahan kalau
kamu belum bisa menghargai orang lain. Termasuk menghargai negaramu sendiri.
Kamu tidak pernah mau ikut bimbingan belajar karena kamu benci bahasa
Indonesia. Apa untungnya logat inggris yang sering kamu pamerkan itu. Ibu orang
Indonesia, begitu juga dengan kamu. ” Suara ibu berbisik dari balik pintu kamar
seorang gadis di lantai dua.
*
Nanda berusaha melupakan hal terburuk yang mungkin akan terjadi
pada dirinya. Impian menjadi lulusan terbaik selalu menjadi pedomannya. Detik
demi detik pikirannya berlalu dan sesaat terbelit kerinduan dalam benaknya.
Bali, ya Bali. Nanda sangat merindukan Bali. Alkuturasi bersama budaya asing
yang telah memberinya subjek sebagai orang yang kehilangan identitas tanah air
dalam jiwanya. Walaupun sebenarnya tidak demikian, Nanda hanya seperti
kebanyakan remaja lain yang lebih bahagia berbahasa asing ketimbang bahasa
negara mereka sendiri dan menganggap itu semua adalah pelajaran berharga.
Sayangnya, persentase sikap tersebut lebih besar untuk Nanda. Jika dihitung,
Nanda 6 tahun tinggal di Jakarta dan sisa usianya dia hidup di Kuala Lumpur dan
Bali. 9 tahun masa sekolahnya dulu, Nanda selalu bergabung di yayasan sekolah
internasional yang kebanyakan warga sekolahnya adalah WNA.
Sepulang sekolah ini Nanda berencana pergi ke toko buku untuk
membeli beberapa keperluan ujian Nasional yang akan berlangsung 3 hari lagi.
Toko buku adalah tempat terindah kedua setelah rumahnya. Tempat yang tepat
untuk mengisi keseharian Nanda yang tidak lebih dari bergurau bersama Ibu dan
beberapa teman dekatnya. Nanda menghampiri lorong bagian novel di depan meja
coklat yang menjual buku diskon.
“Ren, apa kamu ingat pelajaran kelas X, pelajaran pertukaran
makna?”
“Iya ingat, wah susah ya, ameliorasi, peyorasi, apalagi ya... aku
juga masih bingung sis!”
“Banyak siswa tidak lulus UN di pelajaran Bahasa Indonesia. UN itu
seperti hantu ya... !”
Seketika Nanda mendengar pembicaraan 3 orang gadis yang sedang
seksama memilih buku pribahasa dan salah satunya sedang membaca kamus besar
bahasa indonesia. Melihat seragam putih abu – abu, Nanda lantas mengerti bahwa
mereka adalah gadis sebaya Nanda yang sedang sibuk menyiapkan perlengkapan UN.
“Bahasa Indonesia? Pertukaran makna? Bukankah itu mudah? Semua
butuh logika yang tepat!” nanda tersenyum sinis sambil berlalu menuju kasir
tanpa menghiraukan pembicaraan panjang 3 gadis tersebut.
*
Tiga hari berlalu.
Hari ini adalah hari pertama Ujian Nasional bagi siswa SMA
sederajat. Mata pelajaran pertama adalah bahasa Indonesia. Nanda sibuk mencari kursinya
sedangkan teman – temannya saling berhamburan menuju siswa yang dianggap mereka
cerdas. Apa lagi kalau bukan berniat konsultasi.
“Nah, itu dia. Argh, ramai sekali pagi – pagi gini. Bangku saya
sudah ada penghuninya saja!” nanda meletakkan tasnya dan duduk di bangku
temannya yang lain. Beberapa menit kemudian, bel masuk pun berdering. Semua
murid sibuk kembali ke kursi masing – masing.
Pengawas memberikan lembar ujian diiringi dengan lembar – lembar
soal yang tampak cukup tebal. Setelah selesai mengisi kolom identitas, semua
murid mulai fokus mengerjakan soal – soal yang diberikan. Nanda duduk di kursi
paling depan. Detik – detik aman ternyata sangat singkat. Tangannya mulai keringat
dingin. Perutnya benar - benar mulas. Soal UN bahasa Indonesia benar – benar
membuat Nanda panik tidak karuan. Nanda membaca soal satu per satu berharap ada
yang bisa dia jawab dengan cepat.
“Hah? Apa ini ? kalimat majemuk, prosa? ah, prosa itu puisi,
sajak, atau apalah. Kenapa harus ada yang lama sama yang baru? Setidaknya itu
sama saja. Sama – sama fiktif. Andai seperti bahasa yang lain, saya tidak
mungkin memikirkan ini lebih lama lagi!” Nanda mulai meremas pensil dan
penghapusnya
Nanda pun menjawab pertanyaan dengan logika, bukan berdasarkan
ketentuan.
“Ya, saya bisa bahasa, bukankah bahasa Indonesia tidak seperti
tenses yang memiliki banyak aturan, kan? Ternyata ini cukup mudah!” dengan rasa
optimisme yang menggebu Nanda adalah murid pertama yang keluar dari ruangan
nomor 9.
“Nanda Tan, saya pasti lulus dengan predikat lulusan terbaik.
Amin.”
*
Sebulan sudah Ujian Negara berlalu. Hari ini adalah pengumuman
kelulusan untuk tingkat SMA sederajat.
“surat kelulusan akan dikirimkan penjaga sekolah, Nanda. Untuk apa
kamu berdiri di sana sedari tadi?
“aku ingin melihat surat kelulusanku untuk pertama kali Bu,
bersama Ibu.”
“kamu pasti lulus, sayang!”
“Amin, Bu !”
Suara klakson motor penjaga sekolah berbunyi dari depan rumah
Nanda. Dengan sigap Nanda mengambil surat kelulusan dan membukanya.
“Bu, Nanda lulus ! satu lagi mimpi Nanda di masa sekolah, mungkin
aku akan jadi lulusan terbaik. Sama seperti saat aku lulus SMP dulu.”
“Ibu juga berharap begitu, berdoalah kepada Tuhan, sayang.” Ibu
memeluk Nanda penuh haru. Putri kecilnya kini telah tamat SMK.
Ah, tapi bagaimana dengan mimpi Nanda? Ibu tahu sesuatu !
*
Saat wisuda telah tiba, Nanda dengan kebaya cantiknya bergandengan
dengan Ibu menuju ruang kartika. semua orang terpanah melihat kecantikannya.
Gadis oriental yang terkenal bule itu benar – benar anggun berbalut kebaya
kuning dan kain songket. Nanda memakai baju toga berwarna biru lalu duduk di
bangku wisudawati.
Para wisudawan dan wisudawati bergantian maju ke atas panggung.
Suasana membahagiakan menyelimuti seisi ruangan. Tahun ini, SMK Pariwisata
berhasil meluluskan 100% muridnya.
Dan sebentar lagi adalah pengumuman lulusan terbaik. Nanda mulai
memainkan mimpi indahnya.
“Dan siswa dengan nilai UN tertinggi diberikan kepada... Camelia
Nur Cahaya dari kelas XII UPW dengan jumlah nilai 39,50!” semua orang berdiri
memberikan apresiasi kebanggaan. Kecuali gadis yang sedang lesuh di barisan
terakhir bangku wisudawati. Telapak kaki Nanda seperti terbang dan hilang tak
berarah. Mimpinya laksana buaian dalam belenggu dosa. Untuk ketiga kalinya
Nanda seperti menelan pil pahit yang tiada habisnya. Nanda menoleh ke arah
Ibunya di barisan belakang. Nanda berkaca – kaca pada kesalahaan yang tidak
kunjung diperbaikinya. Hal – hal kecil yang tidak semestinya terjadi saat ini
bermula dari keangkuhan nasionalisme.
“aku benar – benar disambar petir bertubi – tubi, Bu! Memalukan!”
nanda membalikkan badan dan mengepalkan kedua tangannya. “Ternyata, Ibu
menyimpan nilai UN Nanda dengan baik. Meskipun SKHUN belum diturunkan, Ibu
telah mengetahui bahwa nilai UN bahasa indonesia Nanda adalah 5,5. Kenapa Ibu
tidak cerita saja? Pantas ada yang ganjil saat kelulusan saat itu. Ketika
temanku membicarakan nilai rata – rata UN, dan aku bertanya kepada Ibu, Ibu
selalu berkata bahwa nilai UN Nanda belum diberikan!” Ibu menundukkan kepalanya
dan berisak pedih dalam hati “semoga kamu dapat belajar dari pengalaman
pahitmu, nak. Itu maksud Ibu. Maaf sayang, maaf!”
“Baiklah, Nanda tan, aku harus memulai semua dari awal.”
*
Setiap kali ibu mengelus rambut panjangku dengan lembut, penuh
cinta kasih yang tidak bisa beliau ungkapkan dengan kata – kata. Aku selalu merasa,
bahwa Ibu adalah takdir terindah dalam hidupku. Ibu, engkau selalu mengiringi
langkah – langkahku.
“mau kemana kamu setelah ini, Nanda? Masuk PTN, kerja, kursus atau
ada yang lain? Pilih mana yang kamu mau, sayang...” tanya Ibu membuka
percakapan.
“Nanda mau masuk UNJ, Bu. Universitas Negeri Jakarta.”
“UNJ? Menjadi guru? Bukannya kamu ingin menjadi pemandu wisata,
Nanda?”
“Ya Bu, aku mau jadi guru bahasa Indonesia saja. Boleh ya, Bu ?”
“kamu yakin, Nanda?”
“sangat yakin!”
“kamu tidak takut akan dilecehkan lagi?”
“tidak ada orang yang bisa mengelak kemuliaan seorang pahlawan
tanpa tanda jasa, Bu.”
“Baiklah. Pilih apapun yang kamu mau, sayang!”.
“terima kasih, Bu. Aku mencintaimu.”
Ibu memeluk Nanda erat –
erat. mereka saling memandang binar – binar air mata dengan penuh keharuan.
*
Aku, Graciera Nanda Aquera Tan, seorang mahasiswi UNJ jurusan
bahasa dan sastra Indonesia.
Kelak jika aku menjadi seorang guru Bahasa Indonesia, aku ingin
semua muridku mendengar kisahku. Kisah sesorang yang selalu mencintai
globalisasi meskipun globalisasi telah membawanya kepada suatu penghinaan. Anggaplah
Nanda seorang Warga Negara Indonesia yang tergila – gila gaya internasional.
Aku teringat ketika Bapak Sira pernah berkisah tentang pengalaman pilu dari
seorang wisatawan asal Belgia. Aku harus seperti Beliau! Berjiwa besar dan
menghargai keadaan. Nanda Tan, apa aku mencintai Bahasa Inggris karena
kelahiranku di Kuala Lumpur dan bersahabat dengan orang – dari dari belahan
dunia? Tidak! Aku mencintai bahasa Indonesia. Bahasa indonesia adalah bahasa
nasional bangsa indonesia. Sesuai sumpah pemuda 28 Oktober 1928. “Kami Putra
dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia!”
Selama ini aku membanggakan diri sebagai sosok yang tidak pernah
tertinggal modernisasi namun aku tidak mampu mencintai bahasa ibuku sendiri?
Aku kah korban globalisasi? Ketika bahasa Indonesia aku anggap seperti bahasa
“kedua” dan aku tidak punya rasa nasionalisme. Aku, aku orang yang keliru. Aku
seperti lari dari bangsaku sendiri. Banyak orang lebih memilih mendiskusikan
sesuatu dalam bahasa asing. Aku tidak mengerti mengapa bahasa asing selalu
dianggap lebih layak. Jika begitu, kemana moral bahasa Indonesia? Apakah hilang
tertelan teknologi informasi? Semoga tidak!
Bahasa Indonesia, bahasa kita. Bahasa Indonesia telah memanggil
jiwaku untuk berbakti kepada negara ini dengan membimbing anak cucunya. Sekalipun
terdapat 360 bahasa daerah, bahasa indonesia adalah bahasa nasional. Kini aku
berprinsip, Bangsa yang besar adalah Bangsa yang mencintai bahasanya sendiri. Bahasa
Indonesia sebagai identitas Bangsa yang tidak bisa diraih oleh siapapun.