Aku melirik tatapan wara yang memandangku teduh penuh rindu. Wara, kau memang mencintaiku, sama seperti aku mencintaimu.
“aku menyesal menyakitimu. Maafkan aku.” “aku mengerti. Aku telah memaafkanmu.”
“terima kasih, aku berjanji tidak mengulanginya lagi.”
Selanjutnya kami saling menatap hati dengan cinta yang sempurna. Wara selalu membuatku berada di angan – angan tertinggi namun Wara juga pandai menghempaskanku ke palung jiwa terdalam hingga aku terjerumus dalam duka. Aku selalu mencintai Wara meskipun kepandaiannya mencurangiku, aku tidak pernah menganggapnya bencana.
Selamanya, Wara akan menjadi obat terbaik di hidupku.
*
Suatu hari yang tak terduga,
Wara menunjukkan kotak kecil padaku. Aku tahu Wara tidak akan lupa memberi kejutan – kejutan manis untukku. “Aku tidak bisa memberimu lebih dari ini.” Wara mengeluarkan cincin berwarna emas dan memasangnya di jari manisku. “Aku titip hati kecil ini untukmu.” Begitu ucapannya. Aku meneteskan air mata bahagia hingga hanyut dalam suasana haru. Wara, tidak terasa dua tahun sudah kita bernaung dalam cinta. Meskipun banyak orang yang meragukan kesetiaanmu. Namun semua telah berlalu, Tuhan mengabulkan doaku, semua berubah menjadi indah. Cincin ini adalah pengikat cinta kita.
Wara, aku harap kau merasakan hal demikian.
*
Sebuah cerita duka,
Wara selalu mengatakan bahwa dirinya anak yatim. Hingga 21 tahun usianya, pertemuan Wara dengan ayahnya bisa terhitung dengan jari. Wara mengalami krisis ekonomi dalam keluarganya sejak kecil. Aku dan Wara memiliki takdir keluarga yang sama. Ayahku adalah seorang poligami. Walau aku lebih beruntung dari Wara karena ayah masih mengingatku dan ekonomi ayah tergolong sangat baik. Sedangkan ayah Wara, beliau meninggalkan keluarganya untuk menikah dengan gadis kaya. Kami saling memahami arti perjalanan hidup.
Ibu pernah berkata agar aku menjauhi Wara. Karma akan berlaku untuk orang – orang yang tidak bersalah. Ibu merasa Wara bukan orang yang tepat untukku. Kami memiliki latar belakang yang sama. Bagaimana jika kelak kami menikah dan aku mengalami hal seperti ibu? Setidaknya jika aku menikah dengan keturunan yang lebih baik, ibu tidak terlalu khawatir datangnya “karma ayah”. Aku tidak ingin semua menjadi sia – sia lalu mimpi kami menjadi hampa. Aku selalu mempertahankamu, sekuat yang aku mampu.
Wara, aku ingin kau melakukan hal yang sama denganku.
*
Suatu hari yang semu,
“apa kau mencintai Wara? kau tidak berminat mencari lelaki lain yang setara denganmu?”
“tidak, bu. Aku mencintainya tulus.”
“apa kau masih bisa menjaga ketulusanmu jika Wara hanya memberimu makan nasi dan garam?”
“Wara kebahagiaan untukku.”
“Kau terlalu dini untuk mengatakan itu. Carilah lelaki yang pantas untukmu. Biarkan Wara menikah dengan orang yang setara. Ibu tahu orang tuamu tidak merestui kalian. Berhentilah menanam cinta sebelum ada yang terluka.”
“ibu tidak menginginkan saya untuk Wara?”
“Maaf. Ibu tidak ingin hal itu terjadi. Jangan kau menunggu hal yang tidak pasti. Mungkin Wara bisa menunggumu. Tapi apa kau bisa memastikan suatu saat Wara akan menjadi orang kaya dan segalanya akan berubah? Ibu tidak merestui kalian. Kau terlalu muda untuk menetapkan pilihan hidup.”
Aku bagaikan tersambar petir berkali – kali. Ibu Wara terlalu mudah untuk mengatakan kesimpulan sepahit seperti ini. Kini semuanya menjadi abu – abu.
Wara, aku masih menyimpan cinta untukmu walau ibu tidak menginginkanku.
*
Suatu hari yang pilu,
Wara tidak menghubungiku cukup lama. Beberapa kali aku menghubungi kerabatnya namun aku belum menemukan jawaban. Wara menjadi misteri. Aku sungguh merindukannya.
Namun rindu itu tenggelam menjadi geram ketika aku menerima kabar buruk terkirim untuk nomor ponselku. Aku bahagia karena aku tahu bagaimana kabar Wara. Dia dalam keadaan sangat baik bahkan sangat bahagia. Semoga aku mampu berbahagia denganmu, Wara. Masih teringat jelas isi pesan panjang darimu. “Elvira, ini aku Wara. Maafkan aku tidak memberimu kabar. Sejak ibu tidak merestui kita, aku berniat untuk meninggalkanmu dan melenyapkan mimpi kita. Maafkan aku. Aku menghamili Ratna, mantan kekasihku. Aku harus menikahinya dalam waktu dekat. Aku tidak menghubungimu karena aku tidak tahu harus berkata apa untukmu. Melalui pesan ini pula aku bermaksud mengundangmu ke pernikahanku sabtu besok jam dua siang di gedung saksana. Aku mohon kau datang sekaligus menjadi pertemuan terakhir kita. Aku tidak akan menyakitimu lagi.”
Baiklah ! Wara, aku tidak akan memenuhi undanganmu dan aku tidak perlu melihat kebahagiaanmu. Untuk kedua kali kau berdusta. Izinkan aku lenyap dalam kenangan.
Ibu, karma tidak akan berlangsung lebih lama lagi. Aku kini merasakannya. Wara meninggalkanku demi perempuan lain yang telah mengandung darah dagingnya. Aku tersadar bahwa cinta manusia yang paling abadi hanyalah cinta milikmu, ibu. Aku sangat mencintaimu.
Wara, kau berhasil menjatuhkanku lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar